Albert Einstein

Di sebuah kota kecil di Ulm, Jerman Barat, pada tanggal 14 Maret 1879, lahirlah seorang yang kemudian terkenal di kalangan para ahli ilmu fisika, bernama Albert Einstein. Ia berada di antara deretan para ahli filsafat maupun para ahli fisika, Sir Issac Newton, Chamberlain, Moulton, Kant, Laplace, Planck, Hubble, Neil Bohr, Hazzle, Kuiper, Jean, Jeffreys dan sebagainya. Hasil buah pikirannya yang penting menggetarkan dunia adalah di saat Perang Dunia II, yaitu dengan dijatuhkannya dua buah bom atom secara berturut-turut di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Bom tersebut disamping menghancurleburkan kota juga memusnahkan harapan negara Jepang di kala itu. Sementara itu, Einstein mengemukakan sebuah teori yang sampai sekarang masih berlaku dan sekaligus membuka tabir alam semesta yaitu Teori Relativitas (Kenisbian) dimana pada saat penemuannya hanya dimengerti oleh segelintir para ahli, antara lain : Eddington, James Jean, Edward Bernard, Russel dan sebagainya. Bahkan Dr.Mousyrifa mengatakan di dunia ini tak ada manusia yang bisa memahami teori ini kecuali hanya 10 orang.

Beliau seorang ilmuwan yang tulen dan sederhana. Rendah hati, pemalu tetapi sangat agresif dalam menanggapi setiap diskusi ilmiah di kalangan ilmuwan-ilmuwan terkenal.

Albert Einstein seorang anak yang dibesarkan sewaktu ayahnya menjadi pedagang toko kecil. Ia hidup dalam lingkungan serba sederhana. Kemudian pindah dari Ulm ke kota Meunchen dan di kota itu mulai bersekolah. Tiada seorang pun yang mengira bahwa ia bakal menjadi ahli matematika. Ketika di bangku sekolah ia sangat dibenci oleh guru-gurunya bahkan ia pernah dikeluarkannya. Tidak hanya itu justru pelajaran yang sangat dibenci adalah aljabar. Tingkah lakunya selalu aneh, namun berkat dorongan pamannya Yakob, makin terbukalah pikirannya. “Jika kamu kesulitan dalam memecahkan soal-soal aljabar bersikaplah kamu sebagai seorang detektif”, demikian tutur pamannya. Dengan ketekunannya makin lama pelajaran matematika seolah-olah berubah menjadi hiburan baginya. Einstein walaupun sangat cerdas akan tetapi lamban dalam berbicara maupun membaca. Sewaktu di SMA semua guru-guru dibencinya karena terlalu keras jika mengajar. Akan tetapi, jika ditanya selalu diam seribu bahasa alias tidak bisa. Itulah akibatnya Einstein malah dianggap anak tidak disiplin, suka membantah dan bandel. Pada suatu waktu dia sudah tidak tahan lagi di kelas, kemudian ia pergi ke dokter agar dokter memberi keterangan bahwa ia sakit saraf. Maka terkabullah niatnya untuk keluar sekolah dengan keterangan surat dari dokter tadi. Meskipun demikian ia tetap rajin belajar. Ini terbukti ketika masih berusia 12 tahun sudah mendalami matematika kalkulus, kemudian pada usia 13 tahun dipelajarinya karya-karya filsafat besar seperti Immanuel Kant dan termasuk bidang yang dipelajarinya adalah matematika, fisika maupun filsafat. Hal ini ditekuni tanpa putus asa. Keluarga Einstein memang kurang beruntung. Mereka adalah keturunan Yahudi yang sangat dibenci para penguasa di Jerman. Terbukti ia berpindah-pindah tempat. Mulanya ke Italia, Swiss dan sampai ke Amerika Serikat dan memang ia sangat merdeka dalam mempelajari ilmunya. Jadi, ia sangat tidak peduli mencampuradukkan antara ilmu dan politik. Pertentangan ini cukup tegang dialaminya saat timbulnya Perang Dunia II yang kala itu dibawah pimpinan tokoh paling kejam yaitu Hitler.

Pada usia 16 tahun Einstein bertekad ingin menjadi guru. Oleh karena itu ia berusaha masuk ke institut di Zurich. Namun apa daya, ia tidak memiliki ijazah SMA karena dikeluarkan sebelum tamat. Akhirnya dengan bersusah payah dan cara yang berbelit-belit permohonan dikabulkan asalkan dengan terlebih dahulu mengikuti tes masuk. Malang baginya, ia tdak dapat diterima karena pelajaran biologi dan bahasa menurut hasil tes kurang sekali nilainya. Kegagalan ini memang wajar sebab sewaktu sekolah SMA belum pernah belajar dengan baik, gara-gara ia dikeluarkan dari sekolahnya. Walaupun demikian ia tidak berhenti sampai di situ. Selama satu tahun ia belajar lebih giat lagi untuk mengikuti tes ulangan masuk institut tersebut. Dengan keuletannya ia berhasil masuk perguruan tinggi dengan nilai fisika dan matematika cukup cemerlang.

Alam perguruan tinggi membuat ia senang bergumul dengan ilmu fisika dan matematika. Profesor-profesor sudah tidak asing lagi bagi dirinya, berdiskusi secara bebas dan memang IQ-nya tidak tanggung-tanggung, 300. Berkat kecerdasan dan keuletannya itu maka dalam waktu empat tahun ia sudah menggondol gelar sarjana matematika dengan prestasi yang belum pernah tercapai oleh mahasiswa lain di perguruan tinggi itu. Seperti yang ia cita-citakan setelah lulus ia menjadi guru dan pegawai di Swiss sebagai tenaga ahli. Disamping itu ia tetap rajin mengadakan penelitian-penelitan sendiri. Dalam jangka waktu 7 tahun telah menelorkan karya-karya ilmiah yang sangat mengagumkan dan gelar doktor sudah dikantonginya. Dan ternyata Einstein tidak hanya seorang ilmuwan. Di waktu senggang ia juga sebagai seniman yang gemar menggesek biola dan suka pada puisi-puisi yang indah. Begitu peka perasaannya sehingga Dr.Mustafa Muhammad dalam bukunya ainstein wannisbiyah mengatakan otak Einstein dalam pengembaraannya hampir seperti pelukis abstrak dengan pengembangan seninya dan rumus-rumusnya ditulis jauh dari kenyataan dalam bentuk angka-angka dan rumus-rumus matematika. Juga ia telah merombak pemikiran yang bersifat sintesis dan analisis tradisional kemudian menggantinya dengan pandangan hakekat yang tadinya tersembunyi di balik selubung kebiasaan dan tradisi. Memang hal ini akhirnya meruntuhkan konsepsi Newton yang tadinya menganggap bahwa ada suatu benda yang bersifat mutlak sebagai patokan, padahal menurut Einstein tidaklah demikian. Einstein tetap mengatakan bahwa seluruh alam semesta ini tidak ada yang mutlak melainkan relatif adanya dan semuanya terjadi dengan sangat sederhana. Maka disusunlah suatu konsepsi baru yang mencengangkan para ilmuwan di dunia yaitu dengan teorinya yang diberi nama “Teori Relativitas Einstein“.

Benarlah bahwa Einstein juga seorang ahli alam semesta karena konsepsinya juga menandingi Teori Expanding yang ditemukan oleh Hubble. Oleh karena itu dalam bukunya yang berjudul “The Universe” oleh David Bergamini dijuluki “Master Cosmologist” (ahli kosmologi/alam semesta). Dikatakan pula bahwa Einstein adalah penemu yang menguasai sistem matematika dengan penyelidikannya yang meliputi alam makrokosmos (alam semesta) juga alam mikrokosmos tentang atom-atom, dimana salah satu teorinya yang tinggi nilainya adalah Teori Kesatuan Medan (Unified Field Theory). Selanjutnya pada tahun 1921 lahirlah penemuan baru lagi mengenai cahaya yang mana mendapat penghargaan tinggi secara internasional yaitu Hadiah Nobel. Dalam sebuah teorinya tentang alam semesta dikemukakan bahwa tadinya semesta ini berasal dari benda raksasa yang akhirnya pecah dan pecahan-pecahan ini terjadilah galaksi-galaksi yang bergerak melengkung dengan membentuk sudut 360º menuju ke segala arah. Dikatakannya, semesta ini tetap luasnya tidak menyempit maupun melebar. Oleh karena itu disebut Teori Statis.

Namun sayang, hasil-hasil karyanya yang mengagumkan dunia itu menjadi bahan incaran kaum politisi dalam bidang militer, sehingga justru penemuannya menjadi bencana yang besar. Di tahun 1941, ia menjadi dosen di Universitas Princeton dan dengan penampilannya yang khas seperti gaya seorang seniman kendatipun setiap saat dikerumuni mahasiswa-mahasiswanya. Dibalik itu pergunjingan politik dunia makin menegangkan dan para negarawan sangat membutuhkannya. Kenapa? Einstein juga ahli atom yang telah mengemukakan bahwa atom dapat menghasilkan energi yang amat dahsyat. Para penguasa menginginkan agar Einstein sudi membuat teorinya itu menjadi kenyataan. Akan tetapi, ia bersikeras agar ilmunya bukan untuk malapetaka namun semuanya untuk kedamaian. Ia pun tidak mengakui bahwa Einstein bukan bangsa Amerika melainkan bangsa Swiss yang tidak suka perang. Meskipun demikian bujukan demi bujukan selalu menggodanya dan tibalah saatnya ia betul-betul terjebak. Beliau yang juga penemu pengembangan alat-alat laser telah menyetujui pembuatan bom atom. Tak lama kemudian terjadilah bencana yang maha dahsyat, manusia di dua kota yakni Hiroshima dan Nagasaki berserakan, bergelimpangan sangat mengerikan. Seluruhnya rata dengan tanah. Semuanya telah terjadi, ia sangat murung dan menyesali perbuatannya. Ia merasa ikur berdosa membunuh manusia yang tidak tahu-menahu. Buah karyanya ternyata bukan untuk kedamaian tetapi sebaliknya. Walaupun dunia menyanjung keberhasilannya itu, ia tetap diam dan menyesal. Termasyurlah kalimat yan diucapkannya “SCIENCE WITHOUT RELIGION IS BLIND, RELIGION WITHOUT SCIENCE IS LAME” (pengetahuan tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh).

Tanggal 18 April 1955 adalah hari berkabung secara internasional. Seorang tokoh ilmuwan besar telah wafat dan seluruh umat di dunia meratapinya. Presiden Amerika Eishenhower ikut berduka cita dan mengakui betapa besar jasanya terhadap Amerika dan dunia umumnya. Walaupun ia telah tiada namun hasil karyanya masih dapat digunakan untuk kedamaian dan kesejahteraan umat di dunia. Salah satunya adalah energi nuklir untuk menghadapi krisis energi di dunia. Masalahnya, bisakah kita berbuat demikian ?

3 thoughts on “Albert Einstein

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s